Masa depan keseimbangan kehidupan kerja

The-Future-of-Work-Life-Balance-

Amerika Serikat telah secara resmi bekerja 8 jam sehari sejak 1916 – itu 104 tahun yang lalu.

Hampir semua hal dalam masyarakat sudah berubah sejak tahun tersebut – termasuk pengenalan departemen personalia dan cuti tahunan – tapi aturan 8-8-8 (8 jam kerja, 8 jam tidur, dan 8 jam santai) masih tetap digunakan. Dengan banyak orang yang kini bekerja di rumah karena Covid-19, garis antara ketiga waktu tersebut menjadi semakin kabur dan semakin sulit untuk orang membagi kehidupan pekerjaan dan kehidupan rumah mereka, yang berimbas pada produktivitas. Hal ini, bersama dengan jadwal kuno 8-8-8, sudah memaksa masyarakat untuk mempertimbangkan apakah ada alokasi waktu yang lebih pantas dalam kehidupan modern.

Dengan tujuan mencari jawabannya, kami bertanya pada 1.000 pekerja di Amerika Serikat (AS) dan berbicara pada orang yang mengaku pekerja fanatik (yang selalu bekerja lebih dari 8 jam sehari) juga para pekerja yang memiliki keseimbangan kehidupan kerja (dimana ada banyak waktu luang).

Bagaimana pekerja AS membagi waktu mereka?

Mayoritas pekerja AS bekerja minimal 8 jam sehari (71%), dengan lebih dari sepertiganya (36%) mengatakan mereka bekerja lebih dari 9 jam sehari. Lebih dari setengahnya (53%) mendapatkan kurang dari 8 jam tidur dalam sehari dan hanya 22% dari mereka menikmati waktu luang 8 jam setiap harinya.

Untuk beberapa orang, bekerja 8 jam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan tugas atau membetulkan pekerjaan mereka. Untuk lainnya, ini terlalu berlebihan, menyebabkan stress dan kelelahan. Profesor Yehuda Baruch, penulis “positive aspect of workaholism”, mengatakan bahwa sedikit stress baik untuk menjaga momentum.

“Saat kamu tidak memiliki stress, ini akan membosankan,” ungkap Baruch. “Pepatah mengatakan bahwa setiap hal harus diselesaikan dengan tenggat waktu. Seringkali tanpanya, kamu tidak menyelesaikan apapun. Ini membuat stress, tapi tanpa elemen stress, tidak akan ada pekerjaan yang selesai.”

Walau stress jangka pendek bisa sudah sering menjadi bagian dari kehidupan kerja, stress berkelanjutan bisa berimplikasi pada kesehatan, seperti menurunnya sistem imun tubuh, sulit tidur, dan sering sakit kepala.

Pengorbanan untuk bekerja

Bagaimana kita menggunakan waktu di luar pekerjaan sepenuhnya terserah pada kita sendiri, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa dan tidak boleh lupakan. Berkompromi tentang bagaimana kita menggunakan waktu di luar kontrol atau pilihan personal.

Rick Hughes, penulis ‘Get a Life: Creating a Successful Work-life Balance’, setuju bahwa saat seluruh pengorbanan tergantung pada di mana kita berada dalam hidup, kita tetap harus mencari keseimbangan.

Hugh mengatakan: “Kita dasarkan prioritas kita berdasarkan tahap kehidupan, keluarga, hubungan, kemakmuran, dan tentu saja, apa yang memberi kita arti dan tujuan. Bekerja setiap waktu berarti tempat kerja kehilangan kekayaan pengalaman yang datang dari aktivitas di luar pekerjaan.

“Saya pernah bertemu para desainer website yang berbakat karena mereka bermain game di waklu luang mereka. Atau pekerja produksi yang mendapatkan kebutuhan sosial mereka lewat acara keluarga. Kita semua perlu sebuah keseimbangan untuk memelihara dan memperkaya kita.

Tidur

Banyak orang tidak ingin mengorbankan waktu tidur untuk bekerja, sulit untuk bekerja dengan baik saat tidur kurang dari 8 jam. Tapi, 41% responden mengatakan mereka akan mengorbankan tidur mereka untuk pekerjaan. Ketika bekerja hingga malam atau bangun subuh menjadi normal, tidak cukup tidur bisa berefek pada produktivitas dan kesehatan kita.

DAlam bukunya ‘Why We Sleep,’ Matthew Walker mengatakan: “Manusia perlu lebih dari tujuh jam untuk tidur setiap malam untuk menjaga performa kognitif. Setelah 10 hari tidur 7 jam, otak akan mengalami disfungsi seperti saat tidak tidur selama 24 jam.”

Tapi Profesor Baruch mengatakan bahwa bagaimana orang mengatur waktu mereka, termasuk bagaimana mereka melihat tidur, berbeda bagi setiap orang. “Ada kebutuhan untuk sebuah pemahaman bahwa ketika keseimbangan kehidupan kerja itu penting, orang berbeda menganggap keseimbangan dalam cara berbeda,” ucapnya. “Untuk beberapa orang, keseimbangan mereka menghasilkan lebih banyak kerja, kurang tidur, dan kurang waktu luang.”

Keluarga

Mengorbankan waktu keluarga untuk kerja – walaupun tanpa konsekuensi kesehatan – berarti kehilangan peluang dalam momen tak terlupakan yang tidak bisa diulang kembali.

40% responden mengatakan mereka akan mengorbankan waktu bersama keluarga untuk bekerja. Pembuat baju pengantin, pemilik bisnis, dan seorang pekerja fanatik Holly Winter pernah menjadi orang ini:

“Menjadi pecandu pada pekerjaanku mungkin berbeda untukku karena ini dimulai dari sebuah hobi. Anak perempuanku berkata beberapa minggu lalu bahwa aku menghabiskan terlalu banyak waktu di studio, jadi aku sekarang berusaha untuk bersama keluarga (tanpa telepon) ketika mereka pulang dari sekolah.”

Waktu luang

Waktu yang paling banyak dikorbankan untuk bekerja adalah waktu untuk beristirahat, dengan 2 dari 3 orang dalam survei mengakui mereka melakukannya. Banyak orang merasa bahwa jika mereka membuat waktu luang, pikiran akan pekerjaan akan tetap ada di dalam pikiran, membuat mereka tidak bisa rileks. Tapi menjauh dari pekerjaan dan membebaskan pikiran dengan melakukan hal yang kamu cintai terbukti bisa membantu orang berkonsentrasi lebih baik saat mereka harus kembali bekerja.

Profesor Mark Cropley, penulis “The Switch Off”, setuju, mengatakan: “Kita berada dalam saat paling kreatif ketika kita beristirahat. Dengan beristirahat dan menjauh dari situasi pekerjaan, kamu bisa menjadi lebih terikat dan berenergi.”

Pemilik bisnis kecil Jessica Robinson menggunakan waktu luang untuk melakukan hal yang ia cintai untuk memberikan pikiran waktu beristirahat: “Sangat penting untuk bisa mematikannya, tapi sangat sulit juga ketika kamu mengelola bisnismu sendiri. Aku terbiasa bekerja setiap saat. Sekarang, aku memastikan untuk pergi ke gym, berkuda, dan mengajak jalan anjing di waktu luang. Aku perlu menjaga otak sesehat tubuhku.”

Masalahnya, untuk mereka yang menjadikan hobi mereka sebagai pekerjaan, garis antara pekerjaan dan waktu luang sangatlah tipis. Lidya McCarthy-Keen, pemilik perusahaan cincin tunangan buatan lab, bersedia untuk mengorbankan saat santainya karena alasan ini.

“Aku menganggap pekerjaanku adalah agamaku. Aku bekerja hingga 12 jam, biasanya selama 6,5 hari dalam seminggu,” aku McCarthy-Keen. “‘Fanatisme kerja’-ku, kamu bisa menyebutnya itu, bisa menghasilkan sebuah momen berkualitas tinggi yang patut diingat, dan berdampak pada dunia berlian dengan cantiknya – siapa yang perlu beristirahat untuk itu?”

Kesehatan

Ada beberapa alasan kenapa pekerja mungkin mendahulukan pekerjaan dibanding kesehatan mental dan fisik mereka. Termasuk dalam daftar ini adalah rasa bersalah melewatkan pekerjaan, terlalu banyak hal yang harus dikerjakan, dan tekanan internal. Mungkin mengejutkan bahwa sebanyak 1 dari 5 orang mengatakan mereka akan mengorbankan kesehatan untuk bekerja.

Saat beberapa orang mencoba bekerja tanpa memperdulikan kesehatan mereka, Andrew Bridgewater, psikolog dan penulis ‘Fit for Business: How to Deal with Stress and Enjoy a Healthy Work-Life Balance’ menyebut bagaimana bekerja berlebihan bisa memiliki konsekuensi parah untuknya: “Di 2006, aku harus masuk ke rumah sakit jiwa dengan depresi psikotik dan kelelahan akut, yang menunjukkan apa yang terjadi ketika pikiran tidak diberikan waktu untuk rileks sama sekali. Aku selalu berpikir negatif tanpa henti 24 jam sehari, 7 hari seminggu.”

“Kita harus menyadari hal-hal ini, tapi ini berbeda untuk setiap orang, di mana sebagian orang berkembang dengan level dan tekanan pekerjaan seperti ini.

Jika gaya hidup fanatik bekerja memakan korban, tapi kamu tidak yakin bagaimana mengatur jadwal, ada cara untuk memperkenalkan proses lambat tapi pasti untuk menyesuaikan jadwal keseimbangan kehidupan kerja. Memiliki jadwal jelas tertulis di kalender bisa membantu membuat jelas pembagian waktu harian. Ini, juga termasuk mengatur alarm atau memasang pengingat di laptop, bertujuan untuk memaksa waktu berhenti dan memulai, yang bisa melatih otak untuk dimatikan dari pekerjaan.

Inisiatif Kerja

Pemerintah, media, dan organisasi kesehatan sudah lama melaporkan bahwa 8 jam kerja sehari baik untuk kita, dengan kemungkinan inisiatif kerja 4 hari seminggu dan waktu libur tidak terbatas diadopsi oleh beberapa perusahaan besar sebagai insentif. Tapi apa yang dipikirkan pekerja AS?

Inisiatif 4 hari kerja seminggu adalah yang paling diterima, dengan 55% dari pekerja AS mengatakan mereka akan mendukungnya. Waktu kerja fleksibel (memulai dan menyelesaikannya pada waktu yang cocok untukmu) didukung oleh 52% responden. Dan hampir setengahnya (45%) akan mendukung waktu cuti tidak terbatas dan juga pengurangan jam kerja dalam seminggu.

Beberapa orang percaya dalam jadwal melelahkan 9-9-6, yang termasuk bekerja dari jam 9 pagi-9 malam, 6 hari seminggu. Pendiri Alibaba Jack Ma mendukung inisiatif ini, mengatakan: “Jika kita mencari hal yang kita sukai, 996 bukanlah masalah...jika kamu tidak menyukainya [pekerjaanmu], setiap menit adalah siksaan.”

Pemilik Tesla Elon Musk juga mengikuti mentalitas ini, menjelaskan: “Aku pikir ada suatu minggu di mana aku bekerja 123 jam. Aku bahkan tidak pergi ke luar. Tapi jika kamu mencintai apa yang kamu lakukan, ini (sebagian besar) tidak terasa seperti bekerja.”

Walaupun pepatah ‘jika kamu mencintai yang kamu lakukan, kamu tidak akan bekerja sehari pun dalam hidupmu’ terasa benar, hal ini juga bisa berbahaya. Malvika Sheth influencer gaya hidup Instagram dan blogger, mengalaminya sendiri.

“Ketika kamu melakukan apa yang kamu cintai sebagai pekerjaan, kamu ingin melakukannya selama mungkin,” ucap Sheth. “Baik fisik dan mentalku sudah terkena dampak dengan membiarkan bisnisku mengambil alih hidupku. HAri ini, aku mencintai yang aku kerjakan, tapi aku mengontrol batasan yang penting dan perlu sehingga bisnis hanya menjadi bagian dari hidup, bukan keseluruhannya.

Sebagai responden, hanya 17% pekerja AS yang mendukung jadwal 9-9-6, jadi kami meragukan bahwa inisiatif ini akan hadir di AS dalam waktu dekat.

Pecandu kerja

Kata ‘pecandu kerja’ sudah digunakan secara kasual sejak lama sehingga sudah kehilangan arti. Biasa digunakan untuk menangkap segala kata untuk pekerja yang bekerja dalam waktu lama di kantor, arti sesungguhnya candu kerja adalah kelainan kompulsif obsesif yang bisa mengakibatkan efek kesehatan serius.

Gejala kecanduan kerja di antaranya kehilangan tidur karena stress, merasa bersalah atau cemas di waktu luang, dan sulit untuk terlepas dari pekerjaan.

Ketika ditanya apakah mereka memiliki pengalaman tentang gejala kecanduan kerja, hampir 90% dari pekerja AS mengatakan mereka memilikinya. Dari orang-orang ini, gejala yang paling banyak ditemukan adalah sebagai berikut:

  • Kekurangan tidur karena stress (45%)
  • Melewatkan makan karena pekerjaan (43%)
  • Merasa bersalah ketika pergi dari kantor lebih dulu dari teman kerja (40%)
  • Sulit terlepas dari pekerjaan (38%)
  • Merasa bersalah ketika tidak bekerja (38%)

Tim Ferriss, penulis dari ‘The 4-Hour Workweek,’ pernah menjadi seorang pecandu kerja. Frustasi dengan jumlah pekerjaan dan waktu luang yang mereka miliki, ia mengambil cuti panjang 3 minggu. Dalam waktu ini, ia mendapatkan bahwa ia bisa lanjut menyelesaikan pekerjaan dengan lebih lambat dan dengan lebih sedikit kontak dengan komputer dengan hanya mengecek email satu kali sehari dan mendelegasikan pekerjaan kecil pada asisten virtual. Waktu ini memberikannya ide untuk bukunya yang sukses.

Usia dan gender

Dalam hal usia, para 45-54 tahun lah yang bekerja rata-rata 9 jam sehari, dengan lebih dari 30% mengatakan mereka bekerja 11 jam sehari. Ini dibandingkan dengan pekerja 25-35 tahun yang bekerja hanya lebih dari 7 jam per hari.

Mengenai gender, tidak hanya lebih banyak laki-laki daripada perempuan (90% dibandingkan 77%) mengorbankan tidur, waktu luang, waktu keluarga, atau kesehatan untuk kerja tapi juga lebih banyak laki-laki (92% dibandingkan 87% perempuan) mengatakan mereka mengalami gejala kecanduan kerja.

Fanatik bekerja atau kehidupan kerja seimbang: mana yang lebih baik?

Seperti yang kita lihat, kedua metode pendekatan bekerja memiliki keunggulan dalam beberapa hal, jadi mungkin saja tidak ada jawaban yang benar atau salah. Di akhir hari, ini semua tergantung pada komitmen, jadwal unik, kegemaran personal akan apa yang dilakukan dan preferensi personal. Selama kamu menempatkan diri lebih penting dan tidak membuat diri sendiri sakit, siapa yang mau mengatur bagaimana kamu mengalokasikan waktu?

Dalam hal pekerjaan masa depan, ada banyak faktor yang berperan dalam menentukan cara bekerja standar yang akan cocok untuk seluruh gaya hidup populasi akan sulit dan bisa berdampak pada hasil bisnis (suatu hal yang ingin dihindari pemilik bisnis). Tidak akan pernah ada pendekatan untuk semua ketika bicara soal kapan dan berapa lama kita bekerja. Yang paling bisa kita harapkan adalah pandangan yang lebih fleksibel ditentukan oleh perusahaan individu yang membuat ruang untuk para pekerjanya menentukan sendiri jadwal yang akan mendukung produktivitas optimal.

Artikel terkait

Lihat semua

Group 3 (3) (1)

Wujudkan ide Anda dalam hitungan menit.

Ekspresikan diri Anda dengan program desain termudah di dunia.