Teori Warna

Janie Kliever
Janie Kliever

Mari ingat-ingat kembali masa sekolah Anda, ketika memiliki sekotak Crayola krayon 64 warna untuk dipilih adalah sebuah kebebasan kreatif yang hakiki?

Sebagai seorang desainer di era digital, Anda tentu saja tidak harus melulu menggunakan warna yang telah tersedia dari paint, ink, atau pigmen yang lain, meski pun ada begitu banyak hal yang dipelajari dari pendekatan seni rupa terhadap warna. Faktanya, mata manusia dapat melihat jutaan warna berbeda – namun terkadang, memilih untuk menggunakan dua atau tiga warna dari sekian juta merupakan tugas yang tidak mudah.

Hal ini karena memilih warna untuk sebuah desain sangatlah subjektif, dan terkadang, sangat ilmiah. Lalu bagaimanakah dengan desainer yang hanya menginginkan sepalet warna yang terlihat bagus atau untuk membuat seorang klien bahagia? Anda menyukainya atau tidak, pemilihan warna yang paling efektif melampui preferensi pribadi – karena warna memiliki kemampuan luar biasa yang dapat mempengaruhi suasana hati, emosi, dan persepsi; mengambil dari arti budaya dan pribadi; dan menarik perhatian, secara sadar atau pun tidak sadar.

Untuk desainer dan bagian pemasaran, tantangannya adalah menyeimbangkan peran yang kompleks ini dengan warna yang menciptakan daya tarik, desain yang efektif. Disanalah pemahaman dasar dari teori warna. Teori warna tradisional dapat membantu Anda memahami warna yang pas (atau tidak) ketika disandingkan dan efek seperti apa yang akan muncul dari kombinasi yang berbeda didalam desain Anda.

Dan semuanya bermula dari roda warna.

Dasar: Memahami Warna

Roda Warna

Anda mungkin melihatnya di kelas seni sekolah, atau setidaknya familiar dengan bentuknya yang lurus kebawah: warna primer dari merah, kuning dan biru. Kita akan memulai dengan roda warna tradisional 12 warna, biasanya sering digunakan oleh pelukis atau artisan yang lain. Ini adalah cara visual yang paling mudah untuk memahami hubungan warna yang satu dengan yang lain.

Roda warna adalah semua hal tentang mencampurkan warna. Campurkan warna primer atau warna dasar merah, kuning, dan biru, dan Anda akan mendapatkan warna sekunder pada roda warna: oranye, hijau, dan ungu. Campurkan warna-warna itu dengan warna primer, dan Anda akan mendapatkan warna level ketiga pada roda warna, warna tersier. Termasuk warna merah-oranye, kuning-oranye, kuning-hijau, biru-hijau, biru-ungu, dan merah-ungu. Warna-warna primer dan tersier (dengan tambahan warna nila) juga merupakan bagian dari spektrum warna yang terlihat, atau “warna pelangi.” Anda mungkin mengingat singkatan dari “mejikuhibiniu” sebagai anak ketika diminta untuk menghafal warna-warna ini: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Cara pemahaman terhadap warna seperti ini juga dikenal sebagai model subtraktif, yang didalamnya sudah termasuk pencampuran warna-warna pigmen seperti paint atau ink – keduanya adalah roda warna tradisional dan sistem warna CMYK yang kategorinya digunakan oleh mesin pencetak. Lawan dari model warna yang adiktif, termasuk didalamnya adalah campuran warna-warna terang (seperti warna yang Anda lihat di layar komputer atau televisi Anda) dan menggunakan set warna dasar yang berbeda: merah, hijau, dan biru, seringnya disingkat menjadi RGB (red, green, blue).

Di Canva, kami memiliki roda warna versi Canva sendiri yang bisa Anda pilih warnanya. Setiap warna yang Anda pilih akan diidentifikasi dengan sebuah nilah heksadesimal (atau kode hex), enam digit kombinasi warna dan/atau huruf (seringnya berawalan #) digunakan pada banyak pogram desain untuk mengidentifikasi warna-warna spesifik ketika mendesain untuk situs.

Terminologi Warna

Sebelum kita berlanjut ke bagaimana cara menggunakan roda warna untuk menciptakan palet warna untuk desain Anda, mari kita pelajari dulu beberapa terminologi berkaitan dengan warna yang akan membantu Anda memahami tipe warna berbeda yang mungkin Anda gunakan sebagai proyek desain Anda:

  • Hue: sinonim kata dari “warna” atau nama dari sebuah warna spesifik; secara tradisional digunakan untuk mengacu kepada 12 warna dasar pada roda warna
  • Shade: warna yang digelapkan dengan warna hitam
  • Tone: warna yang diredupkan dengan warna abu-abu
  • Tint: warna yang diterangkan dengan warna putih
  • Saturasi: mengacu pada intensitas atau kemurnian warna (semakin dekat warna akan mendekati abu-abu, maka semakin terdesaturasi warnanya)
  • Value: mengacu kepada keterangan atau kegelapan dari sebuah warna

Harmoni Warna

Setelah hal-hal teknis mengenai warna, mari beralih ke bagaimana roda warna dapat menjadi sumber praktis dalam memilih warna untuk sebuah proyek desain. Kita bisa menggunakan sebuah nomer dari palet klasik pada roda warna yang telah digunakan selama ratusan tahun oleh pelukis untuk menciptakan keseimbangan dan komposisi visual yang bagus (atau kontras tinggi dan menonjol). Pada kebanyakan aplikasi desain, skema warna-warna ini harus dipisah menjadi satu warna dominan - karena sering muncul pada desain, atau karena warna tersebut menonjol ketika dibandingkan dengan warna-warna lain – dan satu atau lebih banyak aksen warna.

1) Monokromatik: berbagai shade, tone, atau tint dari satu warna; contohnya berbagai jenis warna biru dari yang terang sampai gelap; tipe skema seperti ini biasanya lebih halus dan konservatif

2) Analog: hue yang berdampingan satu sama lain pada roda warna; tipe skema seperti ini sangat serba guna dan dapat dengan mudah diaplikasikan pada proyek desain

3) Komplementer: berlawanan pada roda warna, seperti merah/hijau atau biru/oranye; warna komplementer memiliki kontras dan intensitas tinggi, namun juga cukup susah untuk diaplikasikan secara seimbang, dan harmoni (terutama pada bentuk murni warna tersebut, dapat dengan mudah bentrok pada sebuah desain)

4) Komplementer-Split: setiap warna pada roda warna ditambahkan dua yang mengapit pelengkapnya; skema ini memiliki kontras visual yang kuat, namun juga tidak terlalu menonjol dari sebuah kombinasi warna komplementer

5) Triadic/Komplementer-Ganda: pasangan dua warna komplementer; skema ini menarik perhatian, tapi mungkin akan sulit diaplikasikan lebih dari satu pasang warna komplementer, karena terlalu banyak warna sulit diseimbangkan. Jika Anda menggunakan tipe skema ini, Anda mungkin akan memilih satu dari empat warna untuk menjadi dominan dan mengatur saturasi/value/lain-lain dari beberapa atau semua warna sehingga semua warnanya bekerja dengan baik pada bagian-bagian desain Anda, seperti teks dan latar belakang.

Inspirasi Warna

Sebagai tambahan kombinasi warna yang ditemukan pada roda warna, alam menyediakan inspirasi tidak terbatas untuk skema warna yang harmonis. Untuk 23 palet menakjubkan yang diambil dari fotografi alam (juga terinspirasi dari perjalanan, makanan & minuman, dan barang sehari-hari), coba cek artikel Sekolah Desain kami yang lain, “100 Kombinasi Warna yang Brilian dan Bagaimana Cara Menggunakanya pada Desain Anda.

Warna juga dapat dipasangkan dengan suhu (warna hangat atau dingin), saturasi (warna tajam yang terlihat bermuda, sementara yang redup terlihat sangat vintage), suasana hati (cerah & menyenangkan, gelap & serius), tema (lokasi, musim, hari libur), dan kualitas-kualitas lain. Untuk menjelajahi skema warna yang berbeda, coba lihat salah satu peralatan memilih warna yang tersedia secara online; beberapa bahkan mengizinkan Anda untuk mengunggah gambar untuk mengidentifikasi skema warnanya. Beberapa mencoba untuk melingkupi Paletton, Adobe Colour CC (sebelumnya Kuler), dan ColorExplorer). Jika Anda menggunakan Chrome sebagai browser, Anda bisa mengunduh Eye Droppper tambahan, yang membantu Anda mengidentifikasi dan menarik warna langsung dari situs.

Melihat ke berbagai periode sejarah yang berbeda dan gerakan seni untuk inspirasi warna bisa menjadi tehnik yang bagus. Palet dibawah ini mendemostrasikan warna-warna hangat, warna ringan yang sering digunakan pada lukisan Impresionis; tajam, penggunaan kombinasi yang tidak biasa oleh Pra-Impresionis; lembut, karakteristik warna membumi dari gerakan Seni Nauveau; dan terang, menonjol seperti pop art.

Psikologi Warna

Warna ada di sekeliling kita. Entah kita menyadarinya atau tidak, warna menjadi memiliki peran besar didalam hidup kita sehari-hari. Warna menarik perhatian Anda untuk sebuah alasan. Bagaimana dengan kotak sereal yang Anda beli di supermarket meski pun sedikit lebih mahal dari yang lain? Anda mungkin sudah tertarik dengan warna dari kemasannya. Warna punya caranya sendiri dalam bahasanya…kenapa kita menyebut orang “terlihat merah” ketika mereka sedang marah atau “feeling blue” ketika mereka sedih? Karena warna memiliki koneksi yang unik dengan perasaan dan emosi kita.

Namun orang memikirkan atau mempunyai pengalaman terhadap warna dengan cara yang sama. Arti dan simbolisme yang mengasosiasikan kita dengan warna berbeda telah mempengaruhi sebuah pemahaman oleh budaya dan kelompok sosial yang kita identifikasi. Mari kita lihat kesamaan arti yang diasosiasikan dengan warna dasar pada budaya Barat:

Simbolisme Warna

  • Merah: Warna ini dapat mengkomunikasikan ide yang berbeda tergantung konteksnya. Karena merah berasosiasi dengan api, sehingga merah dapat merepresentasikan kehangatan – atau bahaya. Karena merah juga adalah warna darah, warna ini juga dikonsiderasikan sebagai warna yang berenergi, warna yang hidup dan juga diasosiasikan dengan sesuatu yang berhubungan dengan hati, dan terkadang kekerasan.

Arti alternatif: Di beberapa budaya Timur, merah menyimbolkan keberuntungan dan kesejahteraan dan juga sebagai warna yang dipakai oleh pengantin wanita di hari pernikahan mereka. Sementara di dunia, merah telah diasosiasikan dengan berbagai gerakan politis dan simbol revolusi.

Pada branding: Merah sering dikomunikasikan dengan kekuatan, kepercayaan diri, dan kekuatan dan warna yang sangat menonjol.

  • Oranye: Juga sebuah warna yang berapi-api, oranye mengkombinasikan kehangatan dari merah dengan keceriaan warna kuning untuk sebuah hue yang mengkomunikasikan aktifitas, energi, dan optimisme. Warna ini juga diasosiasikan dengan musim panen atau musim gugur.

Arti alternatif: Di India, saffron, shade dari warna oranye yang spesifik, dikonsiderasikan sebagai kesucian. Di Jepang, warna oranye adalah warna yang menyimbolkan cinta.

Pada branding: Oranye sering merepresentasikan kemudaan dan kreatifitas. Emas yang juga salah satu tipe dari oranye atau kuning namun tergantung huenya sendiri, adalah sebuah simbol dari kemewahan dan kualitas tinggi.

  • Kuning: Sebagai warna dari matahari, kuning sering dikomunikasikan dengan kebahagiaan, keceriaan, keramahan, dan kesegaran dari musim semi. Warna ini juga bisa menjadi peringatan sinyal atau perhatian terhadap bahaya pada beberapa konteks. Beberapa variasi (terutama kuning yang telah terdesaturasi dan kuning kehijauan) dapat terlihat sakit atau tidak menyenangkan; berdasarkan sejarah, kuning terkadang diasosiasikan dengan penyakit dan karantina.

Arti alternatif: Pada beberapa budaya Timur dan Asia, kuning diasosiasikan dengan kebangsawanan dan peringkat tinggi. Di beberapa bagian Afrika dan Amerika Latin, kuning adalah warna berduka yang tradisional.

Pada branding: Kuning murni/cerah melakukan tugas menarik perhatian dengan baik, namun bisa jadi sangat mengganggu atau sulit untuk dilihat (misalnya, ketika teks berlawanan dengan latar belakang warna kuning terang atau sebaliknya) jika tidak digunakan dengan hati-hati.

  • Hijau: Ini adalah warna alam, tumbuhan hidup, dan pertumbuhan. Contohnya, hijau sering dikomunikasikan dengan kesehatan, kesegaran, atau kualitas “alami.” Hijau tua dapat merepresentasikan kekayaan (atau hal-hal yang memiliki relasi dengan uang) dan kestabilan.

Arti alternatif: Di beberapa budaya yang menganut Islam, hijau adalah warna yang suci. Hijau juga diasosiasikan dengan Irlandia, dan dengan perpanjangan, Hari Santo Patrick dan daun keberuntungan semanggi yang memiliki empat helai.

Pada branding: Merek atau produk yang ingin memberikan kesan “hijau” (rasa alami, sehat, berkelanjutan, ramah lingkungan, organik, dan lain-lain) sering digunakan sebagai warna yang diinspirasi alam seperti hijau dan cokelat.

  • Biru: Warna dari laut dan langit, warna ini sering mengkomunikasikan kedamaian, kualitas yang bersih. Sebagai lawan kata dari berenergi, warna yang lebih dingin, biru dilihat sebagai warna yang menenangkan. Pada beberapa konteks, biru dapat merepresentasikan kesedihan atau depresi.

Arti alternatif: Di budaya Timur Tengah, biru secara tradisional memiliki arti sebagai perlindungan dari iblis. Karena asosiasi warna biru dengan surga, biru menyimbolkan keabadian dan/atau spiritual di berbagai budaya.

Pada branding: Biru digunakan secara luas dan salah satu warna yang serba guna. Secara umun digunakan untuk mengkomunikasikan kepercayaan, keamanan, dan kestabilan. Biru tua adalah pilihan yang populer dengan konteks perusahaan, karena warna ini memiliki rasa serius, konservatif, dan kualitas profesional.

  • Ungu: Ungu secara tradisional diasosiasikan dengan kesetiaan, keagungan, atau kehormatan. Warna ini juga memiliki konotasi spiritual/mistis atau keagamaan.

Arti alternatif: Pada banyak budaya di seluruh dunia, ungu merepresentasikan kaum bangsawan atau kekayaan; meski pun begitu, di Thailand dan beberapa bagian Amerika Selatan, warna ini diasosiasikan dengan berduka.

Pada branding: Shade yang lebih gelap biasanya masih menyimbolkan kemewahan, sementara shade warna yang lebih terang dapat dikaitkan dengan feminim atau kekanak-kanakan.

  • Hitam: Seperti merah, hitam memiliki banyak arti (terkadang berlawanan). Warna ini dapat merepresentasikan kekuatan, kemewahan, kecanggihan, dan ekslusif. Di satu sisi, hitam dapat menyimbolkan kematian, iblis, atau misteri. Pada pakaian, hitam secara umun mengkomunikasikan formalitas (pesta “dasi hitam”) atau berduka/kesedihan (sebagai warna tradisional yang digunakan ke pemakaman).

Arti alternaif: Di beberapa budaya Asia dan Amerika Latin, hitam dikonsiderasikan sebagai warna yang maskulin. Di Mesir, hitam menandakan kelahiran kembali. Di banyak budaya yang lain, warna ini diasosiasikan dengan sihir, takhyul, atau nasib buruk – atau, semacam, tidak dapat dijelaskan atau tidak diketahui.

Pada branding: Hitam juga secara luas digunakan sebagai kenetralan, meskipun warna ini masih dapat menyampaikan arti seperti penjelasan diatas tergantung konteks. Banyak desain yang secara sederhana berwarna hitam dan putih, entah hal tersebut pilihan yang disengaja atau hanya untuk berhemat pada biaya cetak. Warna lain dapat terlihat lebih terang dan lebih intens ketika disandingkan dengan hitam.

  • Putih: Sebagai warna cahaya dan salju, putih juga sering merepresentasikan kemurnian, tidak bersalah, kebaikan, atau kesempurnaan (dan secara tradisional dikenakan oleh pengantin wanita), namun juga bisa dikaitkan sebagai telanjang bersih atau steril.

Arti alternatif: Di Cina, warna putih adalah warna berduka. Putih merepresentasikan kedamainan di berbagai budaya – bendera putih adalah simbol universal dari gencatan senjata dan penyerahan diri.

Pada branding: Putih sering dikomunikasikan dengan kesederhanaan atau kebersihan, kualitas modern. Desainer yang mencari esensi minimalis akan sering menggunakan banyak warna putih.

Warna pada Desain

Menambahkan warna pada desain melibatkan lebih banyak dari sekedar memilhi dua atau tiga hue dan menggunakan warna-warna ini secara merata pada bagian latar belakang Anda. Pengaplikasian warna secara efektif kepada sebuah proyek desain membutuhkan banyak sekali keseimbangan – dan lebih banyak warna yang Anda pilih, semakin rumit untuk mencapai keseimbangan.

Sebuah cara yang mudah tentang konsep ini adalah dengan membagi warna pilhan Anda kedalam warna dominan dan aksen. Warna dominan akan menjadi warna yang terlihat dan paling sering digunakan pada desain Anda, sementara satu warna aksen yang lain atau lebih akan melengkapi dan menyeimbangakn warna utama. Memperhatikan bagaimana warna-warna ini berinteraksi dengan satu sama lain – jumlah (atau kekurangan) dari kontras, kemudahan dalam membaca jika ada teksnya, perasaan seperti apa yang diciptakan oleh warna-warna tersebut, dan lain-lain – akan membantu Anda menemukan palet yang sempurna untuk tujuan desain Anda.

Pedoman utama untuk menggunakan sebuah dasar, palet tige warna pada sebuah desain dikenal dengan peraturan 60-30-10. Metode ini sering digunakan pada desain interior, juga dapat diaplikasikan secara efektif pada proyek situs atau desain cetak. Secara sederhana buat jumlah cue dominan Anda 60% pada warna desain, sementara itu dua aksen warna pada 30% dan 10%. Sebuah analogi yang bagus untuk memahami bagaimana pekerjaan ini menggambarkan sebuah stelan jas pria; warna jas dan celana dihitung 60% secara keseluruhan pakaian; kemeja dihitung 30%; dan dasi biasanya menggunakan sebuah hitungan dari warna terang pada 10% - menciptakan keseimbangan, tampilan yang terpoles.

Cara lain untuk membuat palet warna Anda tetap sederhana dan seimbang adalah menggunakan shade dan tint (atau lebih terang dan gelap dari hue yang sudah dipilih). Dengan cara seperti ini, Anda dapat memperluas pilihan warna Anda tanpa membuat desain Anda dengan warna pelangi.

Warna pada Pemasaran & Branding

Pengenalan merek biasanya sangat terikat dengan warna. Misalnya Coca Cola, Facebook, atau Starbucks, dan Anda akan langsung menamai warna yang mereknya berasosiasi dengan warna.

Sebuah penelitian dari Universitas Winnipeg, berjudul “Impact of Color Marketing,” menemukan bahwa penilaian orang terhadap produk biasanya berawal dari warna (dengan penilaian 60%-90% - yang hanya membutuhan 90 detik – berdasarkan warnanya saja). Ini artinya, pada desain, warna bukan hanya sekedar pilihan artistik, namun juga keputusan bisnis yang penting – mempengaruhi semua hal dari persepsi konsumen tentang sebuah merek atau produk yang dijual.

Meski pun begitu, ketika memilih sebuah skema warna untuk logo atau merek Anda, Anda tidak harus patuh dengan tradisional, simbolis, atau metode stereotip. Tidak ada bukti proses atau peraturan yang susah-dan-cepat ketika sudah berhadapan dengan memilih warna. Hal terpenting adalah apakah warna dan bagaimana ini digunakan sudah cocok dengan karakter merek dan konteks pasar. Untuk beberapa inspirasi, kunjungilah BrandColors, sebauh situs yang mengumpulkan pedoman visual (dengan kode heks) untuk pemilihan warna oleh merek yang dikenal dari seluruh dunia.

Sistem Warna RGB vs. CMYK

Ketika Anda bekerja pada sebuah proyek desain yang akan butuh untuk dicetak, layar komputer Anda tidak dapat secara akurat menampilkan warna sebagaimana terlihat pada kertas. “Apa yang Anda lihat” bukan “apa yang Anda dapatkan,” karena monitor/layar digital dan mesin cetak menggunakna sistem warna yang berbeda: RGF dan CMYK. RGB mengacu pada titik-titik kecil warna  merah, hijau, dan biru terang yang dikombinasikan untuk menampilkan warna yang terlihat pada layar; sementara CMYK singkatan dari tinta myan, magenta, kuning (yellow) dan hitam (black) yang dicampurkan oleh mesin cetak untuk membentuk warna-warna cetak. Karena warna RGB menggunakan banyak spektrum ruang warna yang lebih luas dari CMYK, perlu dicatat bahwa beberapa desainer awalnya ingin membuat proyek cetak di RGB untuk pilihan warna yang lebih banyak, tapi kemudian mengubah desain menjadi CMYK sebelum dicetak.

Karena perbedaan ini, desainer membutuhkan cara untuk mendapatkan hasil warna yang konsisten ketika bekerja menggunakan kedua sistem tersebut – contohnya, Anda mendesain sebuah logo untuk digunakan pada situs namun juga akan dicetak pada kartu nama. Disinilah saat dimana Sistem Pemasangan Panton (Pantone Matching System, PMS) dapat membantu. Warna dapat dipasangkan untuk situs dan cetak (dengan berbagai tipe permukaan cetak) untuk memastikan sebuah tampilan yang seragam. Sistem Pantone membuat hal ini menjadi mudah untuk desainer, klien, dan mesin cetak untuk berkolaborasi dan memastikan tampilan akhir produk sesuai dengan yang direncanakan.

Warna: Pahamilah, jelajahi dan cintai!

Ada beberapa orang yang mempelajari sesuatu secara spesial seperti teori warna dan psikologi atau warna neuro – ini adalah subjek kompleks yeng berakhir pada pertemuan dari seni dan sains. Namun kedinamisan itu adalah bagian dari apa yang membuat desain begitu menarik dan peralatan yang efektif untuk pemasaran. Meski pedoman ini mungkin hanya sebatas serpihan di permukaan, kami berharap ini dapat membantu Anda membuat menerima cukup informasi, dan lebih efektif dalam pemilihan warna untuk penggunaan proyek personal atau profesional. Selamat mendesain!